Sunday, October 21, 2012

Banjir Bandang, Galodo, dan Longsor Menyerbu Kota Padang


Bulan Ramadhan, 24 Juli 2012, sirine dari beberapa mobil meraung-raung menuju arah timur Kota Padang. Dalam kegelapan malam di bawah rintik-rintik hujan, armada dari BPBD Kota Padang, BASARNAS dan PMI ini bergerak menuju daerah Limau Manis. Hal tersebut memancing keingintahuan yang luar biasa dari masyarakat karena ketidakbiasaan ini. Apakah mungkin terjadi bencana yang besar? Kalaulah benar, dimanakah kejadiannya?

Beberapa jam sebelumnya, masyarakat di daerah Koto Panjang Limau Manis sedang berbuka puasa di rumahnya masing-masing. Di daerah yang dekat aliran sungai anak Batang Kuranji ini hujan turun dengan lebatnya. Tidak terbayangkan di benak mereka masing-masing akan terjadi bencana terhadap keluarga dan rumah mereka. Hujan semakin lebat termasuk di daerah perbukitan hulu sungai. Bagian Timur Kota Padang terlihat sangat gelap sejak sore hari.

Menurut pengakuan salah seorang warga yang tertimpa bencana galodo, saat warga baru mulai berbuka puasa, terdengar suara keras dari arah sungai seperti benda besar dan berat menggelinding. Air mengalir dengan derasnya ke dalam rumah dan semakin meninggi dengan sangat drastis. Dengan susah payah tanpa sempat menyelamatkan harta benda, warga mencapai daerah yang aman di ketinggian atau ke perbukitan. 


Jembatan Batu Busuk rusak akibat banjir sehingga diperbaiki secara darurat
Malam harinya, air bah telah membanjiri bantaran sungai sebagian wilayah kota Padang. Kejadian diperkirakan mulai pukul 18.30 WIB yang diawali hujan deras pada hulu sungai sejak pukul 16.30 wib sampai pada pukul 23.00 WIB. Lokasi kejadian berada pada Bantaran Sungai seperti  Ilir Sungai Lubuk Kilangan sampai ke Ujung Tanah, Seberang Padang, Batang Anai, Sungai Kurao Pagang serta Bantaran Sungai Batang Kuranji meliputi daerah Limau Manis, Kuranji, dan Siteba. Banjir ini juga memakan korban jiwa sebanyak 10 orang.

Air bah datang yang datang dari hulu Sungai Batang Kuranji merendam ribuan rumah dan toko dalam radius 100 meter dari bantaran sungai yang berada di 10 kelurahan di kecamatan Pauh, Lubukbegalung dan Nanggalo. Ketinggian air mencapai lebih dari 2,5 meter.

Meluapnya hulu Sungai Batang Kuranji di Kecamatan Pauh diduga karena ketidakmampuan perbukitan 30 kilometer dari kawasan Kampus UNAND Limau Manis untuk menampung debit air yang turun saat hujan lebat. Puluhan kubik air ini tidak terserap oleh hutan yang dikenal warga sebagai Bukit Danau Karing. Saat puluhan kubik ini meluncur deras menuju hilir sungai, air bah tersebut meluap dari Sungai Batang Kuranji. Luapan ini menyapu persawahan, ladang-ladang, dan rumah warga di bantaran sungai.

Selain membawa material lumpur, air bah juga membawa material batu, pasir dan kerikil dari hulu. Material ini telah menyebabkan kerusakan yang cukup besar pada sawah, ladang dan menutup jalan raya di daerah hilir. Di daerah Koto Panjang, banjir menyebabkan sebuah sungai baru dengan batu-batu besar di sepanjang alirannya. Aliran ini memutuskan akses jalan yang menyebabkan beberapa kepala keluarga terisolasi. Akses jalan baru dibuka setelah aliran ini ditutup kembali oleh pemerintah dan jalan darurat dibangun kembali.

Kerusakan yang dilaporkan sekitar 2 buah rumah hanyut di Limau Manis dan 1 buah rumah hanyut di lokasi Ujung Tanah Lubuk Begalung. Selain itu Lima jembatan juga rusak yaitu Jembatan Kampus UNAND, Jembatan Batu Busuk, Jembatan Gunung Nago dan Jembatan Koto Panjang. Jaringan listrik dan telepon terputus, Saluran dan dam irigasi rusak parah serta pipa PDAM rusak termasuk intake pipa di bagian hulu. Akibatnya distribusi air bersih untuk sebagian Kota Padang menjadi terganggu. 

Lumpur menumpuk di salah satu perumahan
Banjir bandang daerah hilir
Sementara itu, banjir bandang juga menimpa kawasan pemukiman warga di kawasan Surau Gadang, Gurun Lawas dan Kelurahan Tabing Banda Gadang. Lumpur menumpuk di kawasan pemukiman warga dan jalan raya, aliran listrik terputus, dan seluruh pakaian warga terendam, serta aliran air PDAM masih terputus. Lumpur menggenangi kawasan itu dengan ketinggian sekitar 30 cm.

Menurut warga, kejadian yang terjadi begitu cepat itu menyebabkan tidak ada barang elektronik yang bisa diselamatkan. Bahkan, banyak diantara warga yang tidak sempat menyelamatkan surat-surat berharga milik mereka. Yusuf, Ketua RT 03 RW 01 mengatakan di kawasan itu ada sekitar 45 kepala keluarga yang rumahnya terkena banjir. “Kami tidak sempat menyelamatkan apa-apa. Hanya baju yang melekat di badan ini yang sempat kami bawa,” ujarnya.

Banjir merendam hingga ke atap rumah warga. Sejumlah warga tampak ada yang menangis karena harta benda mereka hanyut dibawa arus banjir yang deras. Nurcahya, 65, warga Surau Gadang mengatakan bahwa seisi rumahnya terendam dan banyak hanyut terbawa arus banjir yang merendam hingga setinggi atap rumah. "Selain peralatan rumah, 20 ekor kambing dan 40 ekor itik juga hanyut dibawa banjir," ungkap Nurcahya.

 Novi, 40 dan Jayusdi Effendi, 50, yang tinggal di Perumahan Indah Pratama menyebutkan, air bah tiba-tiba datang saat mereka baru saja  mulai berbuka puasa. "Air merendam rumah saya setinggi dada, seluruh isi rumah yang ada lantai bawah terendam. Kami mengungsi ke lantai atas," ungkap Jayusdi Effendi yang rumahnya berjarak sekitar 100 meter dari bantaran Sungai, sekitar intake PDAM Kampung Koto.

Pasca banjir di Koto Panjang, jalan akses terputus
 Air mulai surut sekitar pukul 21.30 WIB. Warga terlihat mulai membersihkan rumah mereka dari sisa genangan lumpur. Di badan jalan lintas Kelurahan Surau Gadang, tingginya lumpur usai banjir membuat warga kesulitan dalam mengendarai motor dan mobil.

 Tim Dukungan Lapangan gabungan dari BPBD Kota Padang, BPBD Provinsi Sumatera Barat, SAR Kota Padang, Tim Pemadam Kebakaran Kota Padang, Dinas Kesehatan dan jajaran PLN serta Kepolisian ikut membantu evakuasi warga yang rumahnya dilanda banjir. Tim ini membawa misi yang sama yaitu melaksanakan kegiatan bantuan kebutuhan dasar terhadap masyarakat korban bencana. Mereka bersama-sama dengan bekal perlengkapan dan peralatan yang telah disiapkan, bahu membahu membersihkan rumah-rumah warga yang tergenangi oleh lumpur.

Tim Dukungan banyak menemukan rumah-rumah warga yang masih tertimbun oleh lumpur dengan ketinggian selutut orang dewasa. Banyak warga dengan kondisi ekonomi lemah yang telah kehilangan barang-barang kelengkapan rumahnya seperti alat-alat dapur, baju dan barang-barang yang dianggap berharga oleh mereka. Sumur-sumur warga tidak bisa lagi digunakan karena lumpur telah menggenangi sumber air bersih untuk pemenuhan kebutuhan dasar mereka.

LONGSOR DAN BANJIR SUSULAN
Hanya berselang 3 minggu,  pada 12 September 2012 terjadi bencana tanah longsor dan banjir di  daerah Batu Busuk Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang. Kejadian ini cukup mengejutkan karena jaraknya yang tidak terlalu lama dengan kejadian banjir bandang sebelumnya. Peristiwa tanah longsor terjadi sekitar pukul 17.00 WIB bersamaan hujan lebat yang melanda Kota Padang. Sebanyak enam unit rumah rusak rusak ditimbun material longsor.
Jembatan yang putus akibat banjir di Koto panjang limau manis

Dalam bencana longsor ini jatuh korban sebanyak empat jiwa. Lokasi longsor berada di perbukitan yang cukup terjal yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kondisi medan menuju lokasi yang berlumpur, mempersulit Tim SAR gabungan dari BASARNAS, TNI, BPBD Kota Padang dan Relawan untuk mengevakuasi korban.

BPBD Provinsi Sumatera Barat dan Kota Padang telah mengirimkan bantuan beserta personilnya  ke lokasi bencana. BPBD Kabupaten Padang Pariaman juga ikut mengirimkan personilnya guna melakukan pembersihan rumah-rumah masyarakat yang digenangi oleh material lumpur dan memantau titik-titik longsor di wilayah Batu Busuk. BPBD Kota Padang bekerjasama dengan Dinas Sosial Kota Padang dan Provinsi juga mendirikan tenda-tenda di beberapa titik pengungsian. Tim ini juga melakukan pembersihan material-material kayu di beberapa titik yang diduga sebagai kantong-kantong air. Dengan cara ini, diharapkan bencana banjir bandang akibat penyumbatan oleh material-material tersebut bisa diminimalisir.

TANGGAP DARURAT SELAMA 1 BULAN
Pemerintah Provinsi Sumbar menetapkan bencana banjir bandang di Kota Padang, Pada tanggal 24 Juli 2012 malam sebagai bencana daerah. masa tanggap darurat berlangsung selama satu bulan dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan masyarakat. Sebagai landasan hukumnya, Gubernur Irwan Prayitno telah mengeluarkan Surat Keputusan Status Darurat Bencana Banjir Bandang. Untuk ini gubernur meminta seluruh SKPD terkait, mendata seluruh kerusakan dan kerugian akibat banjir bandang. Katanya, data kerusakan dan kerugian perlu dimaksimalkan sehingga diketahui seluruh dampak banjir, baik itu kerusakan sawah,ternak dan harta benda serta jembatan.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyampaikan bahwa banjir bandang Selasa 24 Juli 2012 merupakan banjir terbesar di Sumatera Barat selama 12 tahun belakangan ini. Tahun 2000 lalu, pernah terjadi banjir bandang di daerah Kuranji, dan tahun 1984 juga pernah terjadi peristiwa banjir  bandang. Dari hasil evaluasi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, penyebab banjir bandang  di 6 kecamatan di Kota Padang akibat penumpukan batang kayu tumbang selama berpuluh-puluh tahun di atas bukit, dan membentuk kantong air.Tingginya curah hujan menyebabkan kayu-kayu di kantong-kantong air itu turun ke bawah dan menerjang areal pemukiman masyarakat dan lahan pertanian.

Hal yang senada juga disampaikan Walikota Padang, Fauzi Bahar. Menurutnya dugaan sementara banjir bandang tersebut diakibatkan karena adanya penebangan hutan secara liar di atas Bukit limau Manis. Ketiadaan vegetasi penyerap air dan penutup permukaan tanah menyebabkan ketidakmampuan lahan dalam menyerap dan menyimpan air hujan yang turun di daerah hulu. Pada saat curah hujan yang sangat tinggi, terjadi run off (aliran air) yang cukup besar di lereng perbukitan. Akibatnya aliran air terbendung di kantong-kantong air dalam jumlah yang besar. Saat kantong-kantong ini sudah tidak mampu menampung lagi, terjadilah banjir bandang yang menerjang ke daerah hilir sungai.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, meluapnya Sungai Batang Kuranji akibat tingginya curah hujan di wilayah tersebut. "Curah hujan berintensitas tinggi yang terjadi di hulu sungai Batang Kuranji sejak siang hari menyebabkan banjir bandang di beberapa daerah di Kota Padang sejak pukul 16.00 WIB," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Sutopo menyebutkan, daerah yang mengalami banjir bandang pada Bulan September 2012 adalah daerah yang sama pada saat bencana banjir bandang pada 24 Juli 2012, yaitu Kecamatan Pauh, Kecamatan Kuranji, Kecamatan Lubuk Kilangan dan Kecamatan Lubeg.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumatera Barat, Ali Musri mengatakan, intensitas hujan yang cukup tinggi, membuat air di sepanjang sungai besar yang ada di Kota Padang meluap. Terjadinya banjir juga disebabkan karena jarak yang cukup pendek antara hulu air di Bukit Barisan dengan laut. Kondisi tersebut diperparah dengan jebolnya kantong-kantong air yang ada di atas bukit, sehingga sungai besar seperti Batang Kuranji, Gunung Pangilun dan Batu Busuk tidak mampu menahan debit air yang tinggi akibat curah hujan yang tinggi. “Kita perlu menginvetarisir terlebih dahulu sungai-sungai yang mengalami kerusakan. Hasil inventarisir tersebut digunakan untuk langkah-langkah penanganan normalisasi lebih lanjut,” ucapnya.

ANTISIPASI BERULANGNYA BANJIR BANDANG DI PADANG
Peristiwa longsor dan banjir bandang ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi pemerintah dan masyarakat Kota Padang. Peristiwa yang berulang ini memberikan peringatan dan fakta bahwa kawasan hilir menjadi sangat rawan saat curah hujan tinggi. Hal ini juga mengindikasikan telah terjadi kerusakan yang signifikan di daerah hulu sungai. Sedangkan di musim kemarau dikuatirkan pasokan air akan berkurang karena daerah serapan air yang semakin sedikit.

Untuk mengurangi risiko banjir bandang dan longsor, BPBD Sumatera Barat yang didukung oleh BNPB mengambil langkah-langkah antisipatif. Pusdalops BPBD Sumatera Barat melakukan pemasangan CCTV untuk monitoring Sungai Batang Kuranji. Pemasangan awalnya dilakukan di Gedung Adzkia guna memantau debit air secara real-time. CCTV ini tersambung langsung dengan Pusdalops PB BPBD Sumatera Barat.

Langkah lainnya adalah melakukan analisis penginderaan jarak jauh dengan menggunakan pencitraan satelit. Hal ini untuk menganalisis potensi longsor daerah rawan longsor. Selain itu juga dilakukan pengambilan foto udara dan perekaman video dengan helikopter BNPB. Selanjutnya adalah dengan operasi pembersihan material kayu dengan membongkar bendungan-bendungan kecil di daerah hulu sungai. Ini perlu rutin dilakukan agar bendungan alamiah ini tidak menyebabkan potensi banjir bandang. Terakhir, adalah dengan membentuk piket siaga 24 jam 7 hari dalam seminggu pada lokasi rawan banjir bandang. Piket dibentuk melalui pemberdayaan pemuda dan Kelompok Siaga Bencana (KSB) dari masyarakat setempat.

Penulis, Sebagaimana yang dimuat dalam Zer0Risk Magazine Edisi Oktober 2012.
Silakan kunjungi www.zer0risk.com

0 Komentar:

Post a Comment

Mohon Maaf, saya terpaksa membatasi komen di laman saya hanya untuk yang memiliki akun google, berhubung ada yang suka nge-spam di blog ini. Harap dimaklumi..

Created By Sora Templates